Chapter
III
One
Step Closer
By: Dansor Al Ruslan Anwar aka Dyah
Isnaeni
Waktu
silih berganti. Tak terasa hari berganti minggu, dan minggu pun berganti bulan.
Musim gugur telah usai, butir-butir salju mulai menggantikan tumpukan daun yang
berserakan. Namun keadaan antara Dante, Felix, dan Fidel masih belum terjalin
baik.
Dante sibuk dengan urusan bisnis yang sejatinya sebagian
besar sudah ia kuasai diusianya masih tergolong dini. Belum lagi ia harus
membagi waktunya untuk sahabatnya yang cukup sering ia temui.
Felix jarang terlihat ada di Mansion. Ia sibuk dengan
urusannya sendiri. Mengendap-endap ke taman belakang Mansion, molos lewat bawah
pagar, kemudian menemui teman-temannya. Bocah itu memang sering luput dari
pantauan kamera pengawas.
Lain lagi dengan Fidel yang sibuk dengan imajinasinya.
Namun sikap manjanya yang berlebih membuat pengasuhnya sering mengeluh.
Jika membicarakan tentang kesibukan, sebenarnya Davidlah
yang paling sibuk. Ia hanya sesekali terlihat menumui Dante untuk menyampaikan
laporan. Ia telah menganggap Dante sebagai pengganti Favian Fernandez dalam
kancah perbisnisan. Dan pelayan, pengawal, karyawan, kolega bisnis, serta Felix
dan Fidel ikut mengakui Dante sebagai Presiden Direktur di semua perusahaan
yang dimiliki mendiang Favian Fernandez.
Sabtu pagi ini, butiran salju turun ke bumi dengan
intensitas ringan. Di sebuah Mansion besar di kota Los Angles, tepatnya di
ruang santai bangunan itu, terlihat dua anak laki-laki dan gadis kecil sedang
duduk-duduk. Mereka adalah Dante, Felix, dan Fidel.
Dante sedang membaca surat kabar harian di tangannya.
Felix sedang memainkan sebuah game di smart phone miliknya. Sedangkan Fidel
sedang asik memilin-milin rambut boneka kesayangannya. Seperti biasa, jarang
ada kata yang terucap diantara mereka bertiga. Karena mereka memang jarang
menghabiskan waktu bersama. Mereka memang mempunyai pengasuh yang berbeda sejak
kecil. Namun saat ini, Dante sedang mencoba mengakrabkan satu sama lain. Selama
ini Fidel yang selalu sibuk dengan bonekanya, kini diharapkan bisa menyesuaikan
diri dengan Felix yang ceroboh sekaligus pembangkang. Gadis manja itu juga
diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan Dante yang keras kepala, dingin dan
terkesan tidak peduli.
“Apa hari ini kalian ada acara? Mungkin mengunjungi teman”.
Tanya Dante buka suara. Ia meletakkan koran yang dipegangnya ke atas meja.
“Aku tidak yakin kalau aku memiliki teman lain selain
ini”. Jawab Fidel sambil mendekap bonekanya.
Dante memutar bola matanya, bosan melihat tingkah gadis
kecil yang duduk di sebelahnya itu. ‘Apa semua anak perempuan bersikap sama
seperti dia?’ Dante bertanya-tanya dalan hati. ‘Sungguh sangat membosankan’.
“Hn.... Lalu apa yang biasa kau lakukan di akhir pekan?”
Dante berusaha bertanya menggunakan kalimat yang sedikit panjang. Seingatnya,
ini kali pertama ia bertanya untuk menyelidiki aktifitas adiknya. “Aku yakin
kau tidak mempunyai jadwal home-schooling di hari Sabtu dan Minggu.
Fidel menatap kakak sulungnya itu dengan manja. “Mommy
biasanya mengajakku ke salon, lalu kami pergi berbelanja. Aku sering merancang
pakaian yang akan aku jadikan seragam untukku sendira dan juga boneka-bonekaku.
Aku juga menata rambutku dan rambut bonekaku dengan gaya yang sama, biar
serasi”. Dan tawa kecil gadis itu terdengar. “Mmm.... Dante, bolehkah besok aku
pergi untuk menghadiri undangan pergaan busana? Aku akan ditemani pengasuhku”. Tandasnya.
‘Oh my God. Gadis jenis apa adikku ini? Aku bisa gila
menghadapinya’. Keluh Dante dalam hati. “Baiklah, kau boleh pergi besok bersama
pengasuhmu. Pastikan kalian sudah di rumah pada jam makan malam”. Dante memberi
ijin. Fidel mengangguk sambil tersenyum senang, lalu menggeser letak duduknya
untuk memberi kecupan terima kasih di pipi kanan Dante seperti yang biasa ia
lakukan. Dante hanya mendengus, menerima kenyataan bahwa ia memiliki adik yang
merepotkan.
“Bagaimana denganmu Felix?” Tanya si sulung.
“Aku ada jadwal home-schooling pengganti, untuk pertemuan
yang tertinggal beberapa hari yang lalu”. Jawab Felix dengan santai. Ia kini
tengah mengantongi PSP-nya ke dalam saku celana panjang belelnya.
“Aku tahu sekarang kau sedang berbohong. Sejak kapan kau
peduli dengan jadwal home-schoolingmu?” Dante melirik bocah lelaki yang mirip
dengannya.
“Itu bukan urusanmu”. Gumam Felix tidak suka.
“Jangan
coba-coba membodohiku. Aku tahu, kau menemui teman pecundangmu itu. Siapa
namanya? Max? Cucunya Mr. Jhon, yang mengajakmu memcicipi rokok dan
mengenalkanmu pada minuman beralkohol. Benar kan?”
“Ah ... Dante, sadarlah ... ini bukan dirimu. Bukan
dirimu yang sebenarnya. Kau tidak pernah bebicara seperti ini padaku sebelumya.
Kau bukan Daddy. Biarkan aku melakukan apa yang aku mau?” Felix memanas, karena
Dante mulai mencampuri kehidupan pribadinya.
Dante tersenyum sinis mendengar ucapan kembaran yang
paling mirip dengannya. “Apa kau baru akan berhenti berteman dengan Max,
setelah Daddy bangkit dari kuburnya? Menunggu dia melarangmu berteman dengan
pecundang itu? Sebegitu frustasinyakah dirimu?” Tukas Dante. Kata-kata tajamnya
membuat Felix makin meradang. “Setidaknya kau menyesuaikan umurmu untuk merokok
dan mencoba minuman keras. Kau belum cukup umur!!” Seru Dante kesal.
Mata Felix berkilat menahan marah. Tatapan matanya
bagaikan seekor ular berbisa, yang siap mematuk anak yang menurutnya lebih
tampan darinya sekaligus lebih angkuh di hadapannya itu. Ia merasa kalau Dante
telah terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya. Menurutnya, Dante telah
memaksa melewati batas-batas yang seharusnya tidak ia lewati. Tangan kanannya
mengepal keras, sampai buku-buku telapak dan jari tangannya memutih. Tak lama
kemudian, tinjunya melayang menghantam pipi kiri Dante. Darah segar menetes keluar
dari sudut kiri bibirnya yang pecah.
Fidel melotot tak percaya melihat apa yang tertangkap
indera penglihatannya. Gadis itu menjerit histeris, lalu menangis. Kedua
tangannya memeluk erat lengan kanan Dante, dan membenamkan kepalanya di dada
kembaran sulungnya. Ia mencari perlindungan, karena takut kembarannya yang lain
akan memukulnya juga.
Dante berusaha menenangkan Fidel. Diusapnya rambut gadis
kecil itu. Ia sudah menduga bahwa kejadian seperti ini akan terjadi cepat atau
lambat. Ia tahu betul sifat Felix yang hampir selalu lepas kendali dan sulit
diatur, karena diam-diam ia juga sering mengawasi saudara kembarnya itu. Ia
berani merelakan wajah tampannya untuk menerima tinjuan Felix dan kecupan
terima kasihnya Fidel, hanya untuk lebih akrab dengan saudara-saudaranya itu.
Tak lama sosok David tergopoh-gopoh memasuki ruang santai
dan tercengang setelah melihat ketiga anak kembar bersaudara itu. “Apa-apaan
ini! Kalian bersaudara. Seharusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi”. David
ikut terbawa emosi. “Dan kalian sukses merusak hari liburku, mengganggu waktu
hibernasiku yang sangat singkat. Oh .... lovely brother, anak-anakmu
mengahancurkan akhir pekanku”. Gumam David lirih seperti bicara pada dirinya
sendiri.
“David, gendong Fidel dan tenangkan dia. Lalu siapkan
mobil. Siang nanti aku akan mengajak kedua kembaranku, untuk mengunjungi panti
asuhan yang sering kudatangi bersama Daddy. Kuharap mereka bisa menemukan teman
di sana, dan merubah perasaan mereka supaya lebih baik untuk bersenang-senang”.
Titah Dante.
“Mmm ... baiklah”. Jawab David ragu. Ia kemudian
melepaskan tangan Fidel yang memeluk erat lengan Tuan kecilnya, lalu
menggendong gadis itu keluar ruangan, meninggalkan Felix dan Dante berdua. Ia
sedikit khawatir kalau situasi akan bertambah buruk jika ia meninggalkan kedua
Tuam Muda itu. Namun ia buru-buru menepis pikiran negatif itu dari benaknya.
“Aku tidak ikut! Aku ingin menemui sahabatku saja. Kurasa
bermain dengan Ryuu lebih menyenangkan dari pada ikut denganmu”. Ucap Felix
ketus.
“Siapa Ryuu?” Tanya Dante ingin tahu. Ia tidak ingin
Felix salah bergaul lagi.
Seakan mengerti alur pikiran kembaran sulungnya itu,
Felix berkata, “Kau jangan khawatir, Ryuu jauh berbeda dari Max. Ryuu
benar-benar teman dekatku. Aku menemukannya di panti asuhan yang sering
kukunjungibersama Mommy. Kau bahkan pernah bertemu dengannya. Mungkin saja kau
lupa. Dan berhentilah untuk ingin tahu tentangku. Itu sama sekali bukan
sifatmu”. Ia menjelaskan tentang sahabatnya pada Dante, sekaligus menyindir
bocah itu. Amarahnya sedikit memudar.
Dante berusaha mem-flash back ingatannya tentang siapa
itu Ryuu. Kemudian ia menyeringai angkuh. “Aa... Ryuunosuke, anak Jepang konyol
itu? Hn, dan kau tidak bisa melarangku untuk tidak mengurusi urusanmu”.
Felix memalingkan wajahnya, sudut bibirnya tertarik ke
atas, salut dengan daya ingat kakak sulungnya.
“Hn ... Aku rasa, aku tak perlu khawatir kalau kau
berteman dekat dengan bocah Jepang itu. Dan menurutku, membawanya tinggal di
sini bukanlah suatu hal yang buruk. Aku berniat mengajak salah satu anak dari
panti asuhan yang kerap kudatangi bersama Daddy. Aku akan membujuk David untuk
itu”. Ujar Dante sebelum ia melangkah keluar diikuti Felix.
“Apa yang kau maksud itu Jayden Nolan?” Tanya Felix penuh
rasa percaya diri. “Dulu dia pernah salah mengira. Dia kira, aku adalah kau.
Tapi dia tak butuh waktu lama untuk menyadarinya. Secara aku ini lebih tampan,
lebih baik hati dan lebih segala-galanya darimu”. Felix menyombongkan dirinya
dengan hal-hal yang tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta.
“Hn”. Sahut Dante ambigu.
“Pilihan yang tepat, kalau begitu aku setuju”. Ucap Felix
sambil menguap, dan berjalan mendahului Dante.
“Aku akan meminta David untuk mengadopsi Ryuu juga, jika
kau menginginkannya. Bagaimana?” Tawar Dante yang langsung di balas anggukan
mantap dari Felix.
“Kau selalu mendapatkan yang kau inginkan. Tak perlu
diragukan lagi, aku menghargai tawaranmu”.
“Kalau begitu, siang nanti kau ikut kami. Lalu kita akan
menemui Ryuu setelah bertemu Jay”.
“Kedengarannya menyenangkan”. Cengir Felix.
(to be continued)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar