Selasa, 13 Januari 2015

My own grave

http://www.missionislam.com/knowledge/knowgif/grave.jpg 




My own grave


I'm trying to fly away
But can't reach my way
Part of my soul forced to leave me
These bones was screaming in agony


Those sound deafening my ears
The ray bounced off my blindness
I felt so numb, pulled by gravity in rules
This soul was rejected by paradise


With my broken wings I'm falling
Left my shadow behind the ring
All of my body just soggy in mud
Sinking on this muddy blood


I'm a slave
Trapped five feet underneath my own grave
I have no brave
Showing the verve



by: Dansor Al Ruslan Anwar
Purworejo, 15 December 2014




Inikah Rasanya?





Inikah Rasanya?


Tubuh rentaku bersandar di dipan bambu
Netraku mulai merabun sejak dua puluh tahun lalu
Kulit keriputku sukses menghapus jejak kekarku
Ku paksa otakku mengingat masa itu, sebelum pikun merajaiku


Kuraba dada kiriku
Tepat di atas jantungku
Bekas luka mulai saru
Namun perih yang kurasa masih di situ


Masih terngiang suara ledakan menghancurkan barak
Banyak serdadu terserak
Berbalut darah mengerak
Samar kuingat, aku tertembak


Suasana kacau balau
Londo itu menginjakku
Meludahi mukaku
Terus memaksa mencari tahu


Pening kepala mendera
Pandangan mengabur, kututup mata
Ah, mungkin aku ada di surga
Sekali ku terbangun, negeri ini sudah merdeka


Jaman menggerus waktu
Banyak ideologi memaksa jadi satu
Menunggangi budak-budak nafsu, curangi aku
Melukai sepotong nyawa macam daku


Anak, cucu dan buyutku jadi korban
Suara mereka tak pernah didengarkan
Hidup pun semakin jadi beban
Inikah keadilan?


Esok aku masuk peti
Membawa cerita mati
Berpisah sanak famili
Berharap sekelumit doa sebagai subsidi


Wahai keturunanku
Bangunlah dari mimpi indahmu
Sekelilingmu penuh api membiru
Dirikanlah dunia baru


Bukan begini yang diinginkan para pendiri
Bukan mengabdi karena diberi
Bukan terus membeli karena disaji
Tapi memproduksi mutu anak negri kualitas tinggi


Karya: Dansor Al Ruslan Anwar
Purworejo, 14 Desember 2014

Ambigu



Ambigu

Aku bagai pohon Oak yang meranggas
Dahanku bagai cakar ganas
Mencoba cabik langit luas
Sendiri di musim gugur berkawan panas


Raut wajahmu nyaris sempurna
Entah Dewa mana yang memahatnya
Meski tanpa garis lengkung di bibir
Aku tetap saja tersihir


Surai hitammu melambai
Berpadu manik mata teliti
Rahang mengeras kokoh
Tampan yang angkuh


Panah cintaku melesat untuk lekat
Kubuang pijakan berharap kau terpikat
Berbuah seringai ambigu
Mengikis tepi hati yang lugu


Harusnya kau merapal penolakan
Bukan menggantungku tanpa beban
Menatap benci dengan sangat
Tapi tanganku kau genggam erat


Kunanti pastimu di musim dingin nanti
Tatap aku dengan berani
Atau kubawa pedih ini
Hingga pucukku bersemi lagi



Karya: Dansor Al Ruslan Anwar
Purworejo, 13 Desember 2014