Inikah Rasanya?
Tubuh rentaku bersandar di dipan bambu
Netraku mulai merabun sejak dua puluh tahun lalu
Kulit keriputku sukses menghapus jejak kekarku
Ku paksa otakku mengingat masa itu, sebelum pikun merajaiku
Kuraba dada kiriku
Tepat di atas jantungku
Bekas luka mulai saru
Namun perih yang kurasa masih di situ
Masih terngiang suara ledakan menghancurkan barak
Banyak serdadu terserak
Berbalut darah mengerak
Samar kuingat, aku tertembak
Suasana kacau balau
Londo itu menginjakku
Meludahi mukaku
Terus memaksa mencari tahu
Pening kepala mendera
Pandangan mengabur, kututup mata
Ah, mungkin aku ada di surga
Sekali ku terbangun, negeri ini sudah merdeka
Jaman menggerus waktu
Banyak ideologi memaksa jadi satu
Menunggangi budak-budak nafsu, curangi aku
Melukai sepotong nyawa macam daku
Anak, cucu dan buyutku jadi korban
Suara mereka tak pernah didengarkan
Hidup pun semakin jadi beban
Inikah keadilan?
Esok aku masuk peti
Membawa cerita mati
Berpisah sanak famili
Berharap sekelumit doa sebagai subsidi
Wahai keturunanku
Bangunlah dari mimpi indahmu
Sekelilingmu penuh api membiru
Dirikanlah dunia baru
Bukan begini yang diinginkan para pendiri
Bukan mengabdi karena diberi
Bukan terus membeli karena disaji
Tapi memproduksi mutu anak negri kualitas tinggi
Karya: Dansor Al Ruslan Anwar
Purworejo, 14 Desember 2014