Senin, 23 Februari 2015

my novel.....Chapter III One Step Closer



Chapter III
One Step Closer

By: Dansor Al Ruslan Anwar aka Dyah Isnaeni

Waktu silih berganti. Tak terasa hari berganti minggu, dan minggu pun berganti bulan. Musim gugur telah usai, butir-butir salju mulai menggantikan tumpukan daun yang berserakan. Namun keadaan antara Dante, Felix, dan Fidel masih belum terjalin baik.
            Dante sibuk dengan urusan bisnis yang sejatinya sebagian besar sudah ia kuasai diusianya masih tergolong dini. Belum lagi ia harus membagi waktunya untuk sahabatnya yang cukup sering ia temui.
            Felix jarang terlihat ada di Mansion. Ia sibuk dengan urusannya sendiri. Mengendap-endap ke taman belakang Mansion, molos lewat bawah pagar, kemudian menemui teman-temannya. Bocah itu memang sering luput dari pantauan kamera pengawas.
            Lain lagi dengan Fidel yang sibuk dengan imajinasinya. Namun sikap manjanya yang berlebih membuat pengasuhnya sering mengeluh.
            Jika membicarakan tentang kesibukan, sebenarnya Davidlah yang paling sibuk. Ia hanya sesekali terlihat menumui Dante untuk menyampaikan laporan. Ia telah menganggap Dante sebagai pengganti Favian Fernandez dalam kancah perbisnisan. Dan pelayan, pengawal, karyawan, kolega bisnis, serta Felix dan Fidel ikut mengakui Dante sebagai Presiden Direktur di semua perusahaan yang dimiliki mendiang Favian Fernandez.
            Sabtu pagi ini, butiran salju turun ke bumi dengan intensitas ringan. Di sebuah Mansion besar di kota Los Angles, tepatnya di ruang santai bangunan itu, terlihat dua anak laki-laki dan gadis kecil sedang duduk-duduk. Mereka adalah Dante, Felix, dan Fidel.
            Dante sedang membaca surat kabar harian di tangannya. Felix sedang memainkan sebuah game di smart phone miliknya. Sedangkan Fidel sedang asik memilin-milin rambut boneka kesayangannya. Seperti biasa, jarang ada kata yang terucap diantara mereka bertiga. Karena mereka memang jarang menghabiskan waktu bersama. Mereka memang mempunyai pengasuh yang berbeda sejak kecil. Namun saat ini, Dante sedang mencoba mengakrabkan satu sama lain. Selama ini Fidel yang selalu sibuk dengan bonekanya, kini diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan Felix yang ceroboh sekaligus pembangkang. Gadis manja itu juga diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan Dante yang keras kepala, dingin dan terkesan tidak peduli.
            “Apa hari ini kalian ada acara? Mungkin mengunjungi teman”. Tanya Dante buka suara. Ia meletakkan koran yang dipegangnya ke atas meja.
            “Aku tidak yakin kalau aku memiliki teman lain selain ini”. Jawab Fidel sambil mendekap bonekanya.
            Dante memutar bola matanya, bosan melihat tingkah gadis kecil yang duduk di sebelahnya itu. ‘Apa semua anak perempuan bersikap sama seperti dia?’ Dante bertanya-tanya dalan hati. ‘Sungguh sangat membosankan’.
            “Hn.... Lalu apa yang biasa kau lakukan di akhir pekan?” Dante berusaha bertanya menggunakan kalimat yang sedikit panjang. Seingatnya, ini kali pertama ia bertanya untuk menyelidiki aktifitas adiknya. “Aku yakin kau tidak mempunyai jadwal home-schooling di hari Sabtu dan Minggu.
            Fidel menatap kakak sulungnya itu dengan manja. “Mommy biasanya mengajakku ke salon, lalu kami pergi berbelanja. Aku sering merancang pakaian yang akan aku jadikan seragam untukku sendira dan juga boneka-bonekaku. Aku juga menata rambutku dan rambut bonekaku dengan gaya yang sama, biar serasi”. Dan tawa kecil gadis itu terdengar. “Mmm.... Dante, bolehkah besok aku pergi untuk menghadiri undangan pergaan busana? Aku akan ditemani pengasuhku”. Tandasnya.
            ‘Oh my God. Gadis jenis apa adikku ini? Aku bisa gila menghadapinya’. Keluh Dante dalam hati. “Baiklah, kau boleh pergi besok bersama pengasuhmu. Pastikan kalian sudah di rumah pada jam makan malam”. Dante memberi ijin. Fidel mengangguk sambil tersenyum senang, lalu menggeser letak duduknya untuk memberi kecupan terima kasih di pipi kanan Dante seperti yang biasa ia lakukan. Dante hanya mendengus, menerima kenyataan bahwa ia memiliki adik yang merepotkan.
            “Bagaimana denganmu Felix?” Tanya si sulung.
            “Aku ada jadwal home-schooling pengganti, untuk pertemuan yang tertinggal beberapa hari yang lalu”. Jawab Felix dengan santai. Ia kini tengah mengantongi PSP-nya ke dalam saku celana panjang belelnya.
            “Aku tahu sekarang kau sedang berbohong. Sejak kapan kau peduli dengan jadwal home-schoolingmu?” Dante melirik bocah lelaki yang mirip dengannya.
            “Itu bukan urusanmu”. Gumam Felix tidak suka.
“Jangan coba-coba membodohiku. Aku tahu, kau menemui teman pecundangmu itu. Siapa namanya? Max? Cucunya Mr. Jhon, yang mengajakmu memcicipi rokok dan mengenalkanmu pada minuman beralkohol. Benar kan?”
            “Ah ... Dante, sadarlah ... ini bukan dirimu. Bukan dirimu yang sebenarnya. Kau tidak pernah bebicara seperti ini padaku sebelumya. Kau bukan Daddy. Biarkan aku melakukan apa yang aku mau?” Felix memanas, karena Dante mulai mencampuri kehidupan pribadinya.
            Dante tersenyum sinis mendengar ucapan kembaran yang paling mirip dengannya. “Apa kau baru akan berhenti berteman dengan Max, setelah Daddy bangkit dari kuburnya? Menunggu dia melarangmu berteman dengan pecundang itu? Sebegitu frustasinyakah dirimu?” Tukas Dante. Kata-kata tajamnya membuat Felix makin meradang. “Setidaknya kau menyesuaikan umurmu untuk merokok dan mencoba minuman keras. Kau belum cukup umur!!” Seru Dante kesal.
            Mata Felix berkilat menahan marah. Tatapan matanya bagaikan seekor ular berbisa, yang siap mematuk anak yang menurutnya lebih tampan darinya sekaligus lebih angkuh di hadapannya itu. Ia merasa kalau Dante telah terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya. Menurutnya, Dante telah memaksa melewati batas-batas yang seharusnya tidak ia lewati. Tangan kanannya mengepal keras, sampai buku-buku telapak dan jari tangannya memutih. Tak lama kemudian, tinjunya melayang menghantam pipi kiri Dante. Darah segar menetes keluar dari sudut kiri bibirnya yang pecah.
            Fidel melotot tak percaya melihat apa yang tertangkap indera penglihatannya. Gadis itu menjerit histeris, lalu menangis. Kedua tangannya memeluk erat lengan kanan Dante, dan membenamkan kepalanya di dada kembaran sulungnya. Ia mencari perlindungan, karena takut kembarannya yang lain akan memukulnya juga.
            Dante berusaha menenangkan Fidel. Diusapnya rambut gadis kecil itu. Ia sudah menduga bahwa kejadian seperti ini akan terjadi cepat atau lambat. Ia tahu betul sifat Felix yang hampir selalu lepas kendali dan sulit diatur, karena diam-diam ia juga sering mengawasi saudara kembarnya itu. Ia berani merelakan wajah tampannya untuk menerima tinjuan Felix dan kecupan terima kasihnya Fidel, hanya untuk lebih akrab dengan saudara-saudaranya itu.
            Tak lama sosok David tergopoh-gopoh memasuki ruang santai dan tercengang setelah melihat ketiga anak kembar bersaudara itu. “Apa-apaan ini! Kalian bersaudara. Seharusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi”. David ikut terbawa emosi. “Dan kalian sukses merusak hari liburku, mengganggu waktu hibernasiku yang sangat singkat. Oh .... lovely brother, anak-anakmu mengahancurkan akhir pekanku”. Gumam David lirih seperti bicara pada dirinya sendiri.
            “David, gendong Fidel dan tenangkan dia. Lalu siapkan mobil. Siang nanti aku akan mengajak kedua kembaranku, untuk mengunjungi panti asuhan yang sering kudatangi bersama Daddy. Kuharap mereka bisa menemukan teman di sana, dan merubah perasaan mereka supaya lebih baik untuk bersenang-senang”. Titah Dante.
            “Mmm ... baiklah”. Jawab David ragu. Ia kemudian melepaskan tangan Fidel yang memeluk erat lengan Tuan kecilnya, lalu menggendong gadis itu keluar ruangan, meninggalkan Felix dan Dante berdua. Ia sedikit khawatir kalau situasi akan bertambah buruk jika ia meninggalkan kedua Tuam Muda itu. Namun ia buru-buru menepis pikiran negatif itu dari benaknya.
            “Aku tidak ikut! Aku ingin menemui sahabatku saja. Kurasa bermain dengan Ryuu lebih menyenangkan dari pada ikut denganmu”. Ucap Felix ketus.
            “Siapa Ryuu?” Tanya Dante ingin tahu. Ia tidak ingin Felix salah bergaul lagi.
            Seakan mengerti alur pikiran kembaran sulungnya itu, Felix berkata, “Kau jangan khawatir, Ryuu jauh berbeda dari Max. Ryuu benar-benar teman dekatku. Aku menemukannya di panti asuhan yang sering kukunjungibersama Mommy. Kau bahkan pernah bertemu dengannya. Mungkin saja kau lupa. Dan berhentilah untuk ingin tahu tentangku. Itu sama sekali bukan sifatmu”. Ia menjelaskan tentang sahabatnya pada Dante, sekaligus menyindir bocah itu. Amarahnya sedikit memudar.
            Dante berusaha mem-flash back ingatannya tentang siapa itu Ryuu. Kemudian ia menyeringai angkuh. “Aa... Ryuunosuke, anak Jepang konyol itu? Hn, dan kau tidak bisa melarangku untuk tidak mengurusi urusanmu”.
            Felix memalingkan wajahnya, sudut bibirnya tertarik ke atas, salut dengan daya ingat kakak sulungnya.
            “Hn ... Aku rasa, aku tak perlu khawatir kalau kau berteman dekat dengan bocah Jepang itu. Dan menurutku, membawanya tinggal di sini bukanlah suatu hal yang buruk. Aku berniat mengajak salah satu anak dari panti asuhan yang kerap kudatangi bersama Daddy. Aku akan membujuk David untuk itu”. Ujar Dante sebelum ia melangkah keluar diikuti Felix.
            “Apa yang kau maksud itu Jayden Nolan?” Tanya Felix penuh rasa percaya diri. “Dulu dia pernah salah mengira. Dia kira, aku adalah kau. Tapi dia tak butuh waktu lama untuk menyadarinya. Secara aku ini lebih tampan, lebih baik hati dan lebih segala-galanya darimu”. Felix menyombongkan dirinya dengan hal-hal yang tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta.
            “Hn”. Sahut Dante ambigu.
            “Pilihan yang tepat, kalau begitu aku setuju”. Ucap Felix sambil menguap, dan berjalan mendahului Dante.
            “Aku akan meminta David untuk mengadopsi Ryuu juga, jika kau menginginkannya. Bagaimana?” Tawar Dante yang langsung di balas anggukan mantap dari Felix.
            “Kau selalu mendapatkan yang kau inginkan. Tak perlu diragukan lagi, aku menghargai tawaranmu”.
            “Kalau begitu, siang nanti kau ikut kami. Lalu kita akan menemui Ryuu setelah bertemu Jay”.
            “Kedengarannya menyenangkan”. Cengir Felix.

(to be continued)

my novel..... Chapter l Twins Lament



Chapter l
Twins Lament
Semilir angin berhembus menerpa pohon-pohon maghoni di kejauhan, mengakibatkan banyak daun berguguran. Awal musim gugur ini akan menjadi awal hidup baru bagi ketiga anak yang berada tak jauh dari tepi hutan.
Dante kecil berdiri dengan wajah tanpa ekspresi di depan makam kedua orang tuanya. Tangan kanannya menggenggam erat jemari Felix, anak lelaki yang berwajah mirip dengannya. Sedangkan tangan kirinya menggenggam erat jemari Fidel, anak perempuan yang bahunya masih bergetar karena tangis. Mereka merupakan anak kembar tiga bersaudara.
“Tuan Muda, hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita kembali ke Mansion”. Kata seorang pria bertubuh tegap yang tak lain adalah David, orang kepercayaan ayah si kembar.
“Iya”. Jawab Dante singkat.
Area pemakaman yang terletak di tepi hutan itu memang tampak lengang. Para pelawat sudah berpamitan sejak siang tadi.
“Sebentar lagi”. Sahut Felix dan Fidel bersamaan. Isakan masih terdengar jelas dari arah Fidel.
“Sampai kapan? Apa kalian mau menunggu sampai mereka bangkit?” Dante melepas kedua genggaman tangannya dengan kasar, kemudian secara bergantian menatap kedua kembarannya yang tengah terkejut karena aksinya.
Fidel dan Felix tidak kuasa menjawab. Mereka hanya bisa menunduk sedih.
“David, pastikan mereka menyusulku ke mobil. Waktu kalian sepuluh menit”. Ucap Dante dingin. David mengangguk mantap, memahami perintah bocah itu.
Langkah kaki Dante membawanya meninggalkan area pemakaman. Tak jauh dari tempatnya berada sudah tersdia limosin dan beberapa mobil pengiring, lengkap dengan pengawal-pengawal yang menyambutnya.
Seorang supir dengan cekatan membukakan pintu mobil untuknya. Dante melangkah memasuki mobil, lantas duduk bersandar. Ia memejamkan kedua matanya, berharap ketika nanti ia membuka mata, semuanya akan kembali seperti sedia kala, dimana kedua orang tuanya masih hidup. Dengan harap-harap cemas, ia mulai menggumam, menghitung maju angka satu sampai tiga.
“Satu....”
“Dua....”
“Tiga....”
Perlahan Dante membuka mata. Ia mengamati keadaan sekelilingnya, kemudian menghela nafas, lesu. Kecewa karena hal yang ia harapkan sia-sia, tidak menjadi kenyataan dan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Dengan menahan rasa sesak, tangan kanannya meremas dada kirinya. ‘Daddy.... Mommy.... mampukah aku?’ Batinnya pedih.


Di dalam kamarnya, Dante berdiri mematung di dekat jendela. Pandangannya jauh menerawang ke depan, namun tatapan matanya kosong. Beberapa butir tetesan bening akhirnya jatuh dari sudut matanya satu per satu. Air mata yang ia tahan dengan segenap jiwanya, akhirnya tumpah juga. Kesedihan telah mengalahkan ketegarannya. Hampir seperempat jam, anak itu larut dalam tangis diamnya, sampai sebuah ketukan terdengar dari balik pintu. Ia buru-buru menghapus jejak air matanya, kemudian mengatur nafasnya dan berusaha bersikap dingin seperti biasa.
“Ada apa!” Seru Dante ketus. Nada bicaranya jauh dari kesan sopan dan ramah, karena ia merasa terusik.
“Maaf, saya telah mengganggu Anda, Tuan Muda. Tapi makan malam sudah siap”. Ujar seorang pelayan dari balik pintu.
Dante segera beranjak dari tempatnya, mengarah ke pintu, membukanya, lalu mengamati seorang pelayan wanita yang berdiri menjulang di hadapannya. “Panggil David ke sini”. Ucap Dante sebelum menutup kembali pintu kamarnya.
“Baik, Tuan Muda. Saya permisi”. Pamit si pelayan dari balik pintu.

Sambil menunggu kedatangan David, Dante duduk bersandar di sofanya. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan, dan pintu pun terbuka.
“David, masuklah”. Dante memberi izin. “Duduklah, dan mulai saat ini, berhentilah bersikap terlalu formal padaku. Ada beberapa hal yang ingin kuketahui darimu”. Lagi-lagi tersaji ucapan Dante yang jauh dari kesopanan. Namun begitulah adanya.
“Baiklah, Tuan Muda. Mmm... maksudku... Dante, apa yang ingin kau ketahui dariku?” Tanya David heran. Karena Dante jarang sekali memanggilnya langsung ke kamar pribadi bocah itu.
“Hn”. Jawab Dante ambigu, kemudian melirik ke arah David. “Apa kau tahu berapa usiaku?” Tanyanya.
David mengerutkan keningnya. ‘What the hell! Pertanyaan macam apa ini? Tuan kecil nampaknya sedang mengajakku bermain tebak-tebakan. Sebenarnya banyak urusan yang harus kukerjakan. Oke, baiklah! Akan kuladeni permainanmu’. Pikirnya. Ia menatap lekat manik mata Dante. “Dante, kita memang jarang bertemu dan berbincang walaupun kita tinggal di bawah atap yang sama. Tapi jangan kau kira aku tidak mengenalmu sama sekali”. Ucap David meyakinkan. ‘Ish... Siapa yang tak kenal Dante? Bocah dingin, egois, jenius, dan super kaku. Gosip tentang siapa dirimu sudah lama beredar di kalangan pelayan, karyawan, serta kolega bisnis. Damn boy!’ Makinya dalam hati.
“Bagus, kalau begitu kau bisa mulai menjawab pertanyaanku”.
‘Ish... Sombong sekali bocah ini’. David mengeluh dalam hati, lalu menjawab pertanyaan Dante dengan jelas. “Usiamu 8 tahun, sama dengan Tuan Muda Felix dan Nona Fidel. Kalian lahir di kota ini, LA. Kalian anak-anak yang unik. Kau pernah dengar prodigy? Kurasa kalian masuk dalam kategori itu”. Puji David.
“Ck...”. Dante mendecak tak suka akan pujian yang dialamatkan padanya dan kedua adiknya.
“Kau putera pertama. Lahir dengan berat 2,9 kg pada jam 11.11 am. Apa kau ingat? Kau pernah memberiku dan ayahmu petuah tentang perbisnisan diusiamu yang baru menginjak 5 tahun. Kau juga menguasai 6 bahasa diusiamu yang ke 3,5 tahun, yaitu English, Indonesian, Spanish, Germany, Thai, dan Japanese”.
“Ah... Kau terlalu sering mendengar gosip tentangku, sampai informasimu kurang akurat. Bicara saja tentang Felix”. Ujar Dante yang mulai bosan.
“Oke...”. David menelan ludah. “Tuan Muda Felix adalah putera kedua, lahir dengan berat 2,68 kg pada jam 11.13 am. Kau tahu tentang bakatnya? Dia mampu melukis diusia 3 tahun. Dan lihat kamarnya, dia melakukan mural painting sendiri. Sedangkan yang terakhir, Nona Fidel, ia lahir dengan berat 1,75 kg pada jam 11.14 am. Hampir tidak bisa diselamatkan. Tetapi Tuhan telah berbaik hati menolongnya. Dia juga berbakat. Dia kini mampu merancang busana dan menata rambut. Dan jangan ragukan kehebatannya memainkan piano”.
Dante memutar bola matanya, bosan. Dia rasa penjelasan David sangat berlebihan. “Hn... Lalu, apa kau tau arti namaku?”
‘Apa... Pertanyaan macam apa itu?’ Batin David kesal. Namun lain dengan apa yang ia katakan pada kenyataannya. “Tentu saja!” Jawabnya penuh percaya diri. “Dante Forte Fernandez. Dante, bertahan atau kokoh dan kekal. Forte berarti kuat. Fernandez adalah nama keluargamu”. Ucapnya lancar. ‘Pantas saja kau sangat angkuh, namamu terlalu kokoh. Aku menyesal tidak protes pada Favian saat istrinya memberimu nama itu’.
“Bagaimana dengan Felix?” Tanya Dante.
“Felix Aeternus Fernandez. Felix sama dengan kebahagiaan. Aeternus berarti selamanya. Fernandez, sudah kusebut tadi”. Ucap David sambil membayangkan sosok Felix. ‘Apanya yang bahagia? Berandal kecil itu kerap membuat kekacauan yang mengakibatkan dirinya sering dihukum mendiang ayahnya. Aku khawatir kelak dia akan mempecundangi kehormatan dirinya sendiri. Oh... Bencana akan menyuramkan masa depanku’. Keluh David dalam benaknya.
“Kalau Fidel, apa?” Cetus Dante, membuyarkan lamunan David.
“Fidelity Maureen Fernandez. Fidelity berarti kesetiaan. Maureen berarti si kecil yang hebat. Fernandez, kau sudah tau itu”. David menjelaskan dengan sabar. “Kalau tidak salah, nama kalian diambil dari bahasa Latin oleh Nyonya. Ada pertanyaan lain?” Tantangnya.
Dante menghela nafas panjang, lalu menatap David yang sangat sabar menunggunya bicara. “David, coba bayangkan jika saat ini kau berusia 8 tahun. Sedangkan kau tak punya sanak saudara lain yang akan mengurusmu. Hanya punya dua adik yang seumuran denganmu, itupun kau tak akrab dengan mereka. Tambah lagi kau harus menjaga jerih payah hasil kerja orang tuamu dari para musuh. Lantas hal apa yang akan kau lakukan?”
Pria dewasa yang duduk di hadapan bocah itu dibuat tercengang mendengar kalimat-kalimat yang dengan lancar meluncur dari bibir Tuan Kecilnya. Ia tak menyangka kalau Dante akan menanyakan hal itu tanpa ekspresi. Benar-benar datar. Plus ini merupakan kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari bocah itu.
Baru saja David akan mengatakan sesuatu, namun Dante menggerakkan tangannya, memberi tanda agar pria itu tak melanjutkan kata-katanya. “Kurasa, lebih baik aku turun dulu untuk makan malam. Kau bisa menjawab pertanyaanku besok. Tunggu aku di ruang kerja Daddy”. Tukas Dante seraya berjalan keluar kamar, meninggalkan David yang sedang menganga tak percaya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari seorang anak kecil.



(dansor al ruslan anwar aka dyah isnaeni)

pupus

http://www.graphics99.com/wp-content/uploads/2012/06/the-breakup.jpg 




Pupus

Di balik dinding gedung sekolah
Kumerapat, melekat
Tak ada polah
Minim bayang siluet


Ingin aku menghampiri
Menanyakan ''itu siapa?"
Namun kau saji bukti
Di belakangku kau mendua


Harusnya bibir ini yang kau kecap
Bukan hatiku yang kau lumat
Sekeliling mendadak senyap
Berduka hati sakit tersayat
Cintaku pupus
Ah, aku mampus
Kasih, kau tak lagi tulus
Kupastikan esok kita putus




Selasa, 13 Januari 2015

My own grave

http://www.missionislam.com/knowledge/knowgif/grave.jpg 




My own grave


I'm trying to fly away
But can't reach my way
Part of my soul forced to leave me
These bones was screaming in agony


Those sound deafening my ears
The ray bounced off my blindness
I felt so numb, pulled by gravity in rules
This soul was rejected by paradise


With my broken wings I'm falling
Left my shadow behind the ring
All of my body just soggy in mud
Sinking on this muddy blood


I'm a slave
Trapped five feet underneath my own grave
I have no brave
Showing the verve



by: Dansor Al Ruslan Anwar
Purworejo, 15 December 2014