Chapter l
Twins Lament
Semilir angin berhembus menerpa
pohon-pohon maghoni di kejauhan, mengakibatkan banyak daun berguguran. Awal
musim gugur ini akan menjadi awal hidup baru bagi ketiga anak yang berada tak
jauh dari tepi hutan.
Dante kecil berdiri dengan wajah
tanpa ekspresi di depan makam kedua orang tuanya. Tangan kanannya menggenggam
erat jemari Felix, anak lelaki yang berwajah mirip dengannya. Sedangkan tangan
kirinya menggenggam erat jemari Fidel, anak perempuan yang bahunya masih
bergetar karena tangis. Mereka merupakan anak kembar tiga bersaudara.
“Tuan Muda, hari sudah mulai gelap.
Sebaiknya kita kembali ke Mansion”. Kata seorang pria bertubuh tegap yang tak
lain adalah David, orang kepercayaan ayah si kembar.
“Iya”. Jawab Dante singkat.
Area pemakaman yang terletak di tepi
hutan itu memang tampak lengang. Para pelawat sudah berpamitan sejak siang
tadi.
“Sebentar lagi”. Sahut Felix dan
Fidel bersamaan. Isakan masih terdengar jelas dari arah Fidel.
“Sampai kapan? Apa kalian mau
menunggu sampai mereka bangkit?” Dante melepas kedua genggaman tangannya dengan
kasar, kemudian secara bergantian menatap kedua kembarannya yang tengah
terkejut karena aksinya.
Fidel dan Felix tidak kuasa
menjawab. Mereka hanya bisa menunduk sedih.
“David, pastikan mereka menyusulku
ke mobil. Waktu kalian sepuluh menit”. Ucap Dante dingin. David mengangguk
mantap, memahami perintah bocah itu.
Langkah kaki Dante membawanya
meninggalkan area pemakaman. Tak jauh dari tempatnya berada sudah tersdia limosin
dan beberapa mobil pengiring, lengkap dengan pengawal-pengawal yang
menyambutnya.
Seorang supir dengan cekatan
membukakan pintu mobil untuknya. Dante melangkah memasuki mobil, lantas duduk
bersandar. Ia memejamkan kedua matanya, berharap ketika nanti ia membuka mata,
semuanya akan kembali seperti sedia kala, dimana kedua orang tuanya masih
hidup. Dengan harap-harap cemas, ia mulai menggumam, menghitung maju angka satu
sampai tiga.
“Satu....”
“Dua....”
“Tiga....”
Perlahan Dante membuka mata. Ia mengamati
keadaan sekelilingnya, kemudian menghela nafas, lesu. Kecewa karena hal yang ia
harapkan sia-sia, tidak menjadi kenyataan dan tidak akan pernah menjadi
kenyataan. Dengan menahan rasa sesak, tangan kanannya meremas dada kirinya.
‘Daddy.... Mommy.... mampukah aku?’ Batinnya pedih.
Di dalam
kamarnya, Dante berdiri mematung di dekat jendela. Pandangannya jauh menerawang
ke depan, namun tatapan matanya kosong. Beberapa butir tetesan bening akhirnya
jatuh dari sudut matanya satu per satu. Air mata yang ia tahan dengan segenap
jiwanya, akhirnya tumpah juga. Kesedihan telah mengalahkan ketegarannya. Hampir
seperempat jam, anak itu larut dalam tangis diamnya, sampai sebuah ketukan
terdengar dari balik pintu. Ia buru-buru menghapus jejak air matanya, kemudian
mengatur nafasnya dan berusaha bersikap dingin seperti biasa.
“Ada apa!” Seru
Dante ketus. Nada bicaranya jauh dari kesan sopan dan ramah, karena ia merasa
terusik.
“Maaf, saya
telah mengganggu Anda, Tuan Muda. Tapi makan malam sudah siap”. Ujar seorang pelayan
dari balik pintu.
Dante segera
beranjak dari tempatnya, mengarah ke pintu, membukanya, lalu mengamati seorang
pelayan wanita yang berdiri menjulang di hadapannya. “Panggil David ke sini”.
Ucap Dante sebelum menutup kembali pintu kamarnya.
“Baik, Tuan
Muda. Saya permisi”. Pamit si pelayan dari balik pintu.
Sambil menunggu kedatangan David, Dante duduk bersandar di sofanya. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan, dan pintu pun terbuka.
Sambil menunggu kedatangan David, Dante duduk bersandar di sofanya. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan, dan pintu pun terbuka.
“David,
masuklah”. Dante memberi izin. “Duduklah, dan mulai saat ini, berhentilah
bersikap terlalu formal padaku. Ada beberapa hal yang ingin kuketahui darimu”.
Lagi-lagi tersaji ucapan Dante yang jauh dari kesopanan. Namun begitulah
adanya.
“Baiklah, Tuan
Muda. Mmm... maksudku... Dante, apa yang ingin kau ketahui dariku?” Tanya David
heran. Karena Dante jarang sekali memanggilnya langsung ke kamar pribadi bocah
itu.
“Hn”. Jawab
Dante ambigu, kemudian melirik ke arah David. “Apa kau tahu berapa usiaku?”
Tanyanya.
David
mengerutkan keningnya. ‘What the hell! Pertanyaan macam apa ini? Tuan kecil
nampaknya sedang mengajakku bermain tebak-tebakan. Sebenarnya banyak urusan
yang harus kukerjakan. Oke, baiklah! Akan kuladeni permainanmu’. Pikirnya. Ia menatap
lekat manik mata Dante. “Dante, kita memang jarang bertemu dan berbincang
walaupun kita tinggal di bawah atap yang sama. Tapi jangan kau kira aku tidak
mengenalmu sama sekali”. Ucap David meyakinkan. ‘Ish... Siapa yang tak kenal
Dante? Bocah dingin, egois, jenius, dan super kaku. Gosip tentang siapa dirimu
sudah lama beredar di kalangan pelayan, karyawan, serta kolega bisnis. Damn
boy!’ Makinya dalam hati.
“Bagus, kalau
begitu kau bisa mulai menjawab pertanyaanku”.
‘Ish... Sombong
sekali bocah ini’. David mengeluh dalam hati, lalu menjawab pertanyaan Dante
dengan jelas. “Usiamu 8 tahun, sama dengan Tuan Muda Felix dan Nona Fidel.
Kalian lahir di kota ini, LA. Kalian anak-anak yang unik. Kau pernah dengar
prodigy? Kurasa kalian masuk dalam kategori itu”. Puji David.
“Ck...”. Dante
mendecak tak suka akan pujian yang dialamatkan padanya dan kedua adiknya.
“Kau putera
pertama. Lahir dengan berat 2,9 kg pada jam 11.11 am. Apa kau ingat? Kau pernah
memberiku dan ayahmu petuah tentang perbisnisan diusiamu yang baru menginjak 5
tahun. Kau juga menguasai 6 bahasa diusiamu yang ke 3,5 tahun, yaitu English,
Indonesian, Spanish, Germany, Thai, dan Japanese”.
“Ah... Kau
terlalu sering mendengar gosip tentangku, sampai informasimu kurang akurat.
Bicara saja tentang Felix”. Ujar Dante yang mulai bosan.
“Oke...”. David menelan
ludah. “Tuan Muda Felix adalah putera kedua, lahir dengan berat 2,68 kg pada
jam 11.13 am. Kau tahu tentang bakatnya? Dia mampu melukis diusia 3 tahun. Dan
lihat kamarnya, dia melakukan mural painting sendiri. Sedangkan yang terakhir,
Nona Fidel, ia lahir dengan berat 1,75 kg pada jam 11.14 am. Hampir tidak bisa
diselamatkan. Tetapi Tuhan telah berbaik hati menolongnya. Dia juga berbakat.
Dia kini mampu merancang busana dan menata rambut. Dan jangan ragukan
kehebatannya memainkan piano”.
Dante memutar
bola matanya, bosan. Dia rasa penjelasan David sangat berlebihan. “Hn... Lalu,
apa kau tau arti namaku?”
‘Apa...
Pertanyaan macam apa itu?’ Batin David kesal. Namun lain dengan apa yang ia
katakan pada kenyataannya. “Tentu saja!” Jawabnya penuh percaya diri. “Dante
Forte Fernandez. Dante, bertahan atau kokoh dan kekal. Forte berarti kuat. Fernandez
adalah nama keluargamu”. Ucapnya lancar. ‘Pantas saja kau sangat angkuh, namamu
terlalu kokoh. Aku menyesal tidak protes pada Favian saat istrinya memberimu
nama itu’.
“Bagaimana
dengan Felix?” Tanya Dante.
“Felix Aeternus
Fernandez. Felix sama dengan kebahagiaan. Aeternus berarti selamanya. Fernandez,
sudah kusebut tadi”. Ucap David sambil membayangkan sosok Felix. ‘Apanya yang
bahagia? Berandal kecil itu kerap membuat kekacauan yang mengakibatkan dirinya
sering dihukum mendiang ayahnya. Aku khawatir kelak dia akan mempecundangi
kehormatan dirinya sendiri. Oh... Bencana akan menyuramkan masa depanku’. Keluh
David dalam benaknya.
“Kalau Fidel,
apa?” Cetus Dante, membuyarkan lamunan David.
“Fidelity
Maureen Fernandez. Fidelity berarti kesetiaan. Maureen berarti si kecil yang
hebat. Fernandez, kau sudah tau itu”. David menjelaskan dengan sabar. “Kalau
tidak salah, nama kalian diambil dari bahasa Latin oleh Nyonya. Ada pertanyaan
lain?” Tantangnya.
Dante menghela
nafas panjang, lalu menatap David yang sangat sabar menunggunya bicara. “David,
coba bayangkan jika saat ini kau berusia 8 tahun. Sedangkan kau tak punya sanak
saudara lain yang akan mengurusmu. Hanya punya dua adik yang seumuran denganmu,
itupun kau tak akrab dengan mereka. Tambah lagi kau harus menjaga jerih payah
hasil kerja orang tuamu dari para musuh. Lantas hal apa yang akan kau lakukan?”
Pria dewasa yang
duduk di hadapan bocah itu dibuat tercengang mendengar kalimat-kalimat yang
dengan lancar meluncur dari bibir Tuan Kecilnya. Ia tak menyangka kalau Dante
akan menanyakan hal itu tanpa ekspresi. Benar-benar datar. Plus ini merupakan
kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari bocah itu.
Baru saja David
akan mengatakan sesuatu, namun Dante menggerakkan tangannya, memberi tanda agar
pria itu tak melanjutkan kata-katanya. “Kurasa, lebih baik aku turun dulu untuk
makan malam. Kau bisa menjawab pertanyaanku besok. Tunggu aku di ruang kerja
Daddy”. Tukas Dante seraya berjalan keluar kamar, meninggalkan David yang
sedang menganga tak percaya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari seorang
anak kecil.
(dansor al ruslan anwar aka dyah isnaeni)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar