Senin, 23 Februari 2015

my novel..... Chapter l Twins Lament



Chapter l
Twins Lament
Semilir angin berhembus menerpa pohon-pohon maghoni di kejauhan, mengakibatkan banyak daun berguguran. Awal musim gugur ini akan menjadi awal hidup baru bagi ketiga anak yang berada tak jauh dari tepi hutan.
Dante kecil berdiri dengan wajah tanpa ekspresi di depan makam kedua orang tuanya. Tangan kanannya menggenggam erat jemari Felix, anak lelaki yang berwajah mirip dengannya. Sedangkan tangan kirinya menggenggam erat jemari Fidel, anak perempuan yang bahunya masih bergetar karena tangis. Mereka merupakan anak kembar tiga bersaudara.
“Tuan Muda, hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita kembali ke Mansion”. Kata seorang pria bertubuh tegap yang tak lain adalah David, orang kepercayaan ayah si kembar.
“Iya”. Jawab Dante singkat.
Area pemakaman yang terletak di tepi hutan itu memang tampak lengang. Para pelawat sudah berpamitan sejak siang tadi.
“Sebentar lagi”. Sahut Felix dan Fidel bersamaan. Isakan masih terdengar jelas dari arah Fidel.
“Sampai kapan? Apa kalian mau menunggu sampai mereka bangkit?” Dante melepas kedua genggaman tangannya dengan kasar, kemudian secara bergantian menatap kedua kembarannya yang tengah terkejut karena aksinya.
Fidel dan Felix tidak kuasa menjawab. Mereka hanya bisa menunduk sedih.
“David, pastikan mereka menyusulku ke mobil. Waktu kalian sepuluh menit”. Ucap Dante dingin. David mengangguk mantap, memahami perintah bocah itu.
Langkah kaki Dante membawanya meninggalkan area pemakaman. Tak jauh dari tempatnya berada sudah tersdia limosin dan beberapa mobil pengiring, lengkap dengan pengawal-pengawal yang menyambutnya.
Seorang supir dengan cekatan membukakan pintu mobil untuknya. Dante melangkah memasuki mobil, lantas duduk bersandar. Ia memejamkan kedua matanya, berharap ketika nanti ia membuka mata, semuanya akan kembali seperti sedia kala, dimana kedua orang tuanya masih hidup. Dengan harap-harap cemas, ia mulai menggumam, menghitung maju angka satu sampai tiga.
“Satu....”
“Dua....”
“Tiga....”
Perlahan Dante membuka mata. Ia mengamati keadaan sekelilingnya, kemudian menghela nafas, lesu. Kecewa karena hal yang ia harapkan sia-sia, tidak menjadi kenyataan dan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Dengan menahan rasa sesak, tangan kanannya meremas dada kirinya. ‘Daddy.... Mommy.... mampukah aku?’ Batinnya pedih.


Di dalam kamarnya, Dante berdiri mematung di dekat jendela. Pandangannya jauh menerawang ke depan, namun tatapan matanya kosong. Beberapa butir tetesan bening akhirnya jatuh dari sudut matanya satu per satu. Air mata yang ia tahan dengan segenap jiwanya, akhirnya tumpah juga. Kesedihan telah mengalahkan ketegarannya. Hampir seperempat jam, anak itu larut dalam tangis diamnya, sampai sebuah ketukan terdengar dari balik pintu. Ia buru-buru menghapus jejak air matanya, kemudian mengatur nafasnya dan berusaha bersikap dingin seperti biasa.
“Ada apa!” Seru Dante ketus. Nada bicaranya jauh dari kesan sopan dan ramah, karena ia merasa terusik.
“Maaf, saya telah mengganggu Anda, Tuan Muda. Tapi makan malam sudah siap”. Ujar seorang pelayan dari balik pintu.
Dante segera beranjak dari tempatnya, mengarah ke pintu, membukanya, lalu mengamati seorang pelayan wanita yang berdiri menjulang di hadapannya. “Panggil David ke sini”. Ucap Dante sebelum menutup kembali pintu kamarnya.
“Baik, Tuan Muda. Saya permisi”. Pamit si pelayan dari balik pintu.

Sambil menunggu kedatangan David, Dante duduk bersandar di sofanya. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan, dan pintu pun terbuka.
“David, masuklah”. Dante memberi izin. “Duduklah, dan mulai saat ini, berhentilah bersikap terlalu formal padaku. Ada beberapa hal yang ingin kuketahui darimu”. Lagi-lagi tersaji ucapan Dante yang jauh dari kesopanan. Namun begitulah adanya.
“Baiklah, Tuan Muda. Mmm... maksudku... Dante, apa yang ingin kau ketahui dariku?” Tanya David heran. Karena Dante jarang sekali memanggilnya langsung ke kamar pribadi bocah itu.
“Hn”. Jawab Dante ambigu, kemudian melirik ke arah David. “Apa kau tahu berapa usiaku?” Tanyanya.
David mengerutkan keningnya. ‘What the hell! Pertanyaan macam apa ini? Tuan kecil nampaknya sedang mengajakku bermain tebak-tebakan. Sebenarnya banyak urusan yang harus kukerjakan. Oke, baiklah! Akan kuladeni permainanmu’. Pikirnya. Ia menatap lekat manik mata Dante. “Dante, kita memang jarang bertemu dan berbincang walaupun kita tinggal di bawah atap yang sama. Tapi jangan kau kira aku tidak mengenalmu sama sekali”. Ucap David meyakinkan. ‘Ish... Siapa yang tak kenal Dante? Bocah dingin, egois, jenius, dan super kaku. Gosip tentang siapa dirimu sudah lama beredar di kalangan pelayan, karyawan, serta kolega bisnis. Damn boy!’ Makinya dalam hati.
“Bagus, kalau begitu kau bisa mulai menjawab pertanyaanku”.
‘Ish... Sombong sekali bocah ini’. David mengeluh dalam hati, lalu menjawab pertanyaan Dante dengan jelas. “Usiamu 8 tahun, sama dengan Tuan Muda Felix dan Nona Fidel. Kalian lahir di kota ini, LA. Kalian anak-anak yang unik. Kau pernah dengar prodigy? Kurasa kalian masuk dalam kategori itu”. Puji David.
“Ck...”. Dante mendecak tak suka akan pujian yang dialamatkan padanya dan kedua adiknya.
“Kau putera pertama. Lahir dengan berat 2,9 kg pada jam 11.11 am. Apa kau ingat? Kau pernah memberiku dan ayahmu petuah tentang perbisnisan diusiamu yang baru menginjak 5 tahun. Kau juga menguasai 6 bahasa diusiamu yang ke 3,5 tahun, yaitu English, Indonesian, Spanish, Germany, Thai, dan Japanese”.
“Ah... Kau terlalu sering mendengar gosip tentangku, sampai informasimu kurang akurat. Bicara saja tentang Felix”. Ujar Dante yang mulai bosan.
“Oke...”. David menelan ludah. “Tuan Muda Felix adalah putera kedua, lahir dengan berat 2,68 kg pada jam 11.13 am. Kau tahu tentang bakatnya? Dia mampu melukis diusia 3 tahun. Dan lihat kamarnya, dia melakukan mural painting sendiri. Sedangkan yang terakhir, Nona Fidel, ia lahir dengan berat 1,75 kg pada jam 11.14 am. Hampir tidak bisa diselamatkan. Tetapi Tuhan telah berbaik hati menolongnya. Dia juga berbakat. Dia kini mampu merancang busana dan menata rambut. Dan jangan ragukan kehebatannya memainkan piano”.
Dante memutar bola matanya, bosan. Dia rasa penjelasan David sangat berlebihan. “Hn... Lalu, apa kau tau arti namaku?”
‘Apa... Pertanyaan macam apa itu?’ Batin David kesal. Namun lain dengan apa yang ia katakan pada kenyataannya. “Tentu saja!” Jawabnya penuh percaya diri. “Dante Forte Fernandez. Dante, bertahan atau kokoh dan kekal. Forte berarti kuat. Fernandez adalah nama keluargamu”. Ucapnya lancar. ‘Pantas saja kau sangat angkuh, namamu terlalu kokoh. Aku menyesal tidak protes pada Favian saat istrinya memberimu nama itu’.
“Bagaimana dengan Felix?” Tanya Dante.
“Felix Aeternus Fernandez. Felix sama dengan kebahagiaan. Aeternus berarti selamanya. Fernandez, sudah kusebut tadi”. Ucap David sambil membayangkan sosok Felix. ‘Apanya yang bahagia? Berandal kecil itu kerap membuat kekacauan yang mengakibatkan dirinya sering dihukum mendiang ayahnya. Aku khawatir kelak dia akan mempecundangi kehormatan dirinya sendiri. Oh... Bencana akan menyuramkan masa depanku’. Keluh David dalam benaknya.
“Kalau Fidel, apa?” Cetus Dante, membuyarkan lamunan David.
“Fidelity Maureen Fernandez. Fidelity berarti kesetiaan. Maureen berarti si kecil yang hebat. Fernandez, kau sudah tau itu”. David menjelaskan dengan sabar. “Kalau tidak salah, nama kalian diambil dari bahasa Latin oleh Nyonya. Ada pertanyaan lain?” Tantangnya.
Dante menghela nafas panjang, lalu menatap David yang sangat sabar menunggunya bicara. “David, coba bayangkan jika saat ini kau berusia 8 tahun. Sedangkan kau tak punya sanak saudara lain yang akan mengurusmu. Hanya punya dua adik yang seumuran denganmu, itupun kau tak akrab dengan mereka. Tambah lagi kau harus menjaga jerih payah hasil kerja orang tuamu dari para musuh. Lantas hal apa yang akan kau lakukan?”
Pria dewasa yang duduk di hadapan bocah itu dibuat tercengang mendengar kalimat-kalimat yang dengan lancar meluncur dari bibir Tuan Kecilnya. Ia tak menyangka kalau Dante akan menanyakan hal itu tanpa ekspresi. Benar-benar datar. Plus ini merupakan kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari bocah itu.
Baru saja David akan mengatakan sesuatu, namun Dante menggerakkan tangannya, memberi tanda agar pria itu tak melanjutkan kata-katanya. “Kurasa, lebih baik aku turun dulu untuk makan malam. Kau bisa menjawab pertanyaanku besok. Tunggu aku di ruang kerja Daddy”. Tukas Dante seraya berjalan keluar kamar, meninggalkan David yang sedang menganga tak percaya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari seorang anak kecil.



(dansor al ruslan anwar aka dyah isnaeni)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar